Perusahaan Asing Berebut Untung dari Bisnis Coworking Space
News

Perusahaan Asing Berebut Untung dari Bisnis Coworking Space

06 November 2018 103

Penyedia layanan sewa ruang kerja bersama atau coworking space asal Belanda dan Australia ikut meramaikan persaingan bisnis di Indonesia. Hal ini seiring dengan berkembangnya bisnis startup dan besarnya jumlah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di dalam negeri.

Yang paling anyar, perusahaan coworking space dari Belanda, Spaces. Spaces adalah bagian dari International Workspace group (IWG) yang juga mengelola Regus, salah satu pemain besar dalam bisnis service and virtual office internasional.

"Indonesia adalah pasar yang besar dan sangat menarik, khususnya di Jakarta," kata Country Manager Spaces Indonesia Vijayakumar Tangarasan di Jakarta, Kamis (25/10).

Baca Juga : Pertumbuhan Minat Terhadap Coworking Space di Asia Lampaui AS dan Eropa

Lokasi pertama Spaces berada di World Trade Center (WTC) 3, Jakarta yang akan dibuka pada bulan November 2018. Luas coworking space tersebut mencapai 2.226 meter persegi, yang dapat menampung 330 workstations.

Besarnya potensi bisnis coworking space di Indonesia juga diamini oleh Pendiri dan CEO Spaces Martijn Roordink. Ia mencatat, kontribusi industri ini baru 3 persen dari bisnis real estate. "Kami perkirakan (kontribusinya) tumbuh hingga 30 persen," ucapnya.

Adapun Spaces yang didirikan pada tahun 2006. Spaces sudah memiliki 155 lokasi coworking space di beberapa negara, termasuk Belanda, Amerika Serikat (AS), Singapura, Indonesia, dan Australia. Anggotanya beragam, seperti Happy Hour Fridays, Spaces Book Club and Partners, Uber, Booking.com,
Paypal, hingga GoPro.

"Mendirikan Spaces di Jakarta adalah bagian yang sangat krusial dan ini adalah peluang untuk menunjukkan apa yang dapat kami berikan untuk perusahaan, profesional ataupun pekerja lepas,” ucap Martijn.

Hanya, Brand Manager Spaces untuk Asia Pasifik Margot Van Der Poel menyadari, persaingan bisnis coworking space di Indonesia cukup besar. Untuk itu, perusahaannya fokus menghadirkan suasana kerja kreatif dengan etos kewirausahaan yang berbeda dengan konsep Eropa kontemporer.

Spaces juga membawa unsur lokal seperti kafe yang menyediakan hidangan kopi khas nusantara. "Kami fokus pada suasana yang berbeda, ukuran dan konsisten (dalam penyediaan layanan)," papar dia. Sejalan dengan strategi ini, ia pun membuka peluang untuk ekspansi ke kota-kota lainnya di Indonesia.

Sementara, penyedia coworking space khusus financial technology (fintech) asal Australia, Stone & Chalk akan menggandeng UnionSPACE dan membuka FintechSPACE di Indonesia. CEO UnionSPACE Albert Goh mengatakan, kerjasama ini bertujuan memberikan wadah bagi para pelaku bisnis fintech di kedua negara untuk meningkatkan kualitas bisnisnya.

Para pengguna mendapat akses untuk menggunakan coworking space milik UnionSPACE dan Stone & Chalk di Indonesia dan Australia. Selain itu, pengguna juga akan dihubungkan dengan Venture Capital atau perusahaan pemodal. "Dengan banyaknya startup di bidang fintech, UnionSPACE merasa perlu memperkuat fondasi fintech dalam negeri," kata dia.

Pengusaha lokal seperti Perusahaan perfilman milik Raam Punjabi, PT Tripar Multivision Plus juga merambah bisnis coworking space, dengan mendirikan unit usaha Greenhouse. Greenhouse membuka coworking space pertamanya di Multivision Tower yang terletak di Kuningan, Jakarta pada Januari lalu.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Coworking Space Indonesia Felencia Hutabarat mencatat, jumlah unit bisnis ini meningkat dari 45 pada 2016, menjadi 150 di 2017, dan bertambah lagi menjadi 200 per Juni 2018.

Baca Juga : 2 Hal yang Jadi Hambatan Bisnis Coworking Space di Indonesia

Hanya, industri ini memiliki banyak tantangan dari sisi regulasi, seperti pajak ataupun perizinan. "Kami tidak punya nomenklatur, sehingga perizinan dan pajaknya masih membingungkan," katanya.

Dari sisi perizinan, misalnya, coworking space digolongkan sebagai kantor virtual. Di DKI Jakarta, kantor virtual diatur melalui SE PTSP DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 2016, yang merupakan pengembangan dari Perda DKI Jakarta Nomor 1 Tahun 1014 tentang zonasi. Sebelumnya, karena ketiadaan aturan konkret, kantor-kantor virtual sempat ditutup, kemudian dibuka kembali pada tahun 2016. (www.katadata.co.id)

  • Share

Download Now

Subscribe to our Newsletter

Search Office By Building