Bisnis Ritel Merosot, Pasaraya Berubah Jadi New Creative Hub
Business

Bisnis Ritel Merosot, Pasaraya Berubah Jadi New Creative Hub

17 May 2019 265

Seiring perkembangan zaman, pusat perbelanjaan atau mall semakin berkurang, sejalan dengan tutupnya toko-toko ritel.

Penyebab berkurangnya pamor pusat perbelanjaan, salah satunya dipengaruhi oleh maraknya bisnis jual-beli online (e-commerce).

Pasaraya, adalah salah satu pusat perbelanjaan yang terkena akibat penurunan toko offline, dan berkembangnya penjualan online.

Pengelola Pasaraya tidak bisa mengelak atas fenomena makin menciutnya para peritel yang berminat menyewa ruang usaha.

Mereka pun mensiasati kondisi tersebut dengan mengubah konsep usahanya, sesuai dengan keinginan pasar saat ini. Hal itu dibuktikan dengan penyewaan ruang di Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan.

Presiden Direktur PT Pasaraya Tosersajaya Medina L Harjani mengakui, industri ritel saat ini sudah berbeda sehingga Pasaraya harus mengubah konsep bisnisnya.

“Pasaraya sudah 45 tahun, sudah mengalami asam garam. Sebagai pebisnis, kami harus fleksibel, dinamika bisnis seperti apa. Kita enggak bisa ngotot. Sekarang ada e-commerce, fast fashion bisnis, dan lain-lain,” kata Medina ketika berbincang dengan laman Kompas.com di kantornya, Jakarta, Senin (13/5).

Pasaraya yang dari dulu dikenal sebagai salah satu pelaku industri ritel harus mengubah konsep bisnis dalam hal proporsi ruang yang potensial disewakan.

Khusus di Pasaraya Blok M, sebanyak 70% ruang digunakan untuk perkantoran dan 30% sisanya untuk bisnis ritel dan food court.

Ruang perkantoran dialokasikan bagi perusahaan yang bergerak di bidang teknologi digital, seperti transportasi online dan e-commerce.

Go-Jek

Perusahaan transportasi online ini mempekerjakan orang-orang kreatif yang membutuhkan ruang kerja sesuai keinginan mereka.

Salah satu penyewa besar di Pasaraya Blok M adalah Go-Jek. Perusahaan transportasi online ini sudah berkantor di Gedung B hampir tiga tahun.

Mulanya mereka menempati dua lantai, kemudian akan bertambah terus hingga akhir tahun ini.

“Kami ingin membuat Pasaraya Blok M ini jadi a new creative hub. Kebetulan banyak perusahaan bisnis kreatif yang membutuhkan kantor, seperti Go-Jek yang tidak suka dengan kantor konvensional. Mereka cari ruangan yang fun,” ujar Medina.

Dia mengungkapkan, sejak akhir tahun 2016, Go-Jek menempati area seluas 16.000 meter persegi yang melingkupi empat lantai.

Sehubungan dengan perkembangan bisnisnya, mereka berencana menambah ruang kantor hingga 29.000 meter persegi hingga akhir 2019.

“It’s good for us. Nantinya mereka akan ambil dari lantai 1 hingga 10 di Gedung B. Saat ini Go-Jek menempati lantai 4, 5, 6, dan 7. Kami akan handover lagi di lantai 2 dan lantai 3 dalam keadaan kosong, nantinya ada lagi sampai akhir tahun,” ucap Medina.

Kerja sama antara Pasaraya dan Go-Jek dapat diibaratkan ayam dan telur. Harus diakui bahwa Pasaraya adalah pelaku bisnis ritel yang sudah lama, namun memiliki visi yang sama dengan Go-Jek.

“Kami punya satu visi dengan Go-Jek yang tagline-nya ‘karya anak bangsa’. Dia pilih Pasaraya karena punya visi ‘the pride of Indonesia”. Yang satu era milenial, yang satu era jadul, bagaimana caranya agar bisa dikombinasi,” tutupnya.

 

Sumber : www.kompas.com

  • Share

Download Now

Subscribe to our Newsletter

Search Office By Building