Pasar Coworking Space Dalam Negeri Masih Menjanjikan
News

Pasar Coworking Space Dalam Negeri Masih Menjanjikan

02 July 2019 200

Meskipun banyak operator bermunculan, tetapi pasar ruang kerja bersama (coworking space) dalam negeri terbilang masih menjanjikan.

CEO CoHive Jason Lee mengatakan, dua tahun lalu, saat CoHive masuk ke Indonesia di tahun 2017, permintaan coworking space di dalam negeri baru sekitar 2% dari total pasokan seluruh jenis ruang perkantoran yang ada.

"Saat ini pada 2019 sudah mencapai 4% dari total pasar perkantoran," kucap Jason menjawab Kompas.com, Rabu (20/6) lalu.

Baca Juga : Tips Nyaman Bekerja di Kantor Bersama atau Coworking Space

"Jika melihat di New York, permintaan itu sudah 10%, London 15%. Sehingga ini memiliki potensi yang besar di pasar," tambahnya.

Kata dia, kehadiran coworking space menjadi solusi bagi perusahaan rintisan dalam memenuhi kebutuhan ruang perkantoran. Saat ini, setidaknya terdapat 1.705 perusahaan rintisan (startup) yang beroperasi di Indonesia.

Jumlah tersebut menempatkan Indonesia berada di posisi empat besar setelah Amerika Serikat 28.794 startup, India 4.713 startup, dan Inggris 2.971 startup, berdasarkan riset Startup Ranking.

Dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki, menyewa ruang kerja yang lebih permanen dari penyedia jasa ruang perkantoran tentu bisa menjadi hambatan bagi mereka.

Sementara, perusahaan coworking space cenderung memberikan keleluasaan bagi anggota yang akan menyewa ruang kantor.

"Harus ada edukasi intinya terhadap kehadiran coworking space. Apa benefitnya, efisiensi biaya, ruang yang
ditawarkan," ujarnya.

Terus berkembang

Berdasarkan riset Savills Indonesia, total coworking space yang ada di Jakarta mencapai 120.000 meter
persegi.

Dari jumlah tersebut, 61% atau sekitar 73.200 meter persegi berada di kawasan pusat bisnis (CBD), dan 39% atau sekitar 46.800 meter persegi sisanya berada di luar kawasan CBD.

Head of Research and Consultancy Savills Indonesia, Anton Sitorus mengungkapkan, pesatnya pertumbuhan operator didorong sikap agresif mereka dalam menjalin kerja sama untuk membuka ruang-ruang baru.

"Seperti WeWork, yang membuka tiga lokasi baru sepanjang 2018. Atau CoHive yang baru membuka lebih dari sepuluh lokasi baru di dalam portofolionya," ucapnya.

"Ke depan, kami berharap tren kerja sama terus berlanjut, namun tidak mungkin pada kecepatan yang sama dalam dua tahun terakhir. Di samping itu, operator coworking yang masuk makin beragam, seperti Spaces dari Amsterdam yang kini telah menempati lebih dari 2.000 meter persegi di WTC 3," katanya.

Baca Juga : Pengertian Coworking Space dan Keuntungannya

Co Founder dan CEO Kolega, Rafi R Hiramsyah mengatakan, perkembangan operator coworking space tidak lepas dari menjamurnya perusahaan startup. Mereka cenderung tidak memerlukan ruang kantor yang luas dengan harga selangit, melainkan sesuai dengan kebutuhan dan juga harga sewa yang murah.

"Coworking ini semacam market place dalam dunia nyata. Kolega mempertemukan antara satu kepentingan dengan kepentingan lainnya, satu komunitas dengan komunitas lainnya. Tujuannya satu yakniberkembang bersama melalui kolaborasi," kata Rafi, menjawab Kompas.com.

  • Share

Download Now

Subscribe to our Newsletter

Search Office By Building