Pasar Perkantoran Jakarta Awal 2020 Masih Tertekan
News

Pasar Perkantoran Jakarta Awal 2020 Masih Tertekan

10 January 2020 366

Kondisi bisnis ruang kantor di Jakarta, baik di central business district (CBD) dan di kawasan non-CBD, masih tertekan.

Hal ini menyusul tambahan suplai yang hanya 450.000 meter persegi atau 2,8% angka perkiraanpada tahun 2020, yang tak dibarengi dengan kinerja permintaan.

Colliers Internasional Indonesia mencatat, komitmen perusahaan untuk mengisi perkantoran anyar tahun ini baru mencapai 30%.

"Hal ini mengakibatkan harga sewa pun akan terus mengalami tekanan hingga akhir 2020 dan masa mendatang," kata Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto di Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Data Colliers menyebutkan, peningkatan suplai perkantoran baru diperoleh dari tujuh gedung perkantoran di kawasan CBD seluas 270.000 meter persegi dan tujuh gedung di luar area CBD seluas 225.000 meter persegi.

"Semuanya serba melihat situasi. Jadi total jika untuk tambahan pasokan di tahun 2020 jumlahnya sama dengan tahun 2019," ucapnya.

Adapun pasokan kumulatif ruang perkantoran pada tahun 2019 di kawasan CBD seluas 6,65 juta juta meter persegi. Sedangkan pasokan perkantoran di luar CBD mencapai 3,6 juta meter persegi.

Dengan jumlah ini, total kumulatif ruang perkantoran di Jakarta mencapai 10,4 juta meter persegi atau naik 5% secara tahunan (year on year).

Tambahan pasokan pekantoran itu diperoleh dari empat gedung yang beroperasi seluas 233.933 meter persegi. Walau tambahan suplai ini lebih sedikit jika dibandingkan tahun 2018.

Sedangkan pasokan perkantoran di luar CBD ditunjang tujuh gedung. Fery menambahkan, lima dari tujuh gedung tersebut beroperasi dalam tiga bulan terakhir.

Tambahan pasokan ini berdampak pada tingkat hunian dan harga sewa. Pada tahun 2019, tingkat hunian tercatat 83.4%.

Kinerja baik perkantoran tahun 2018 dan tahun 2019 membantu tingkat hunian naik 1,5% secara tahunan.

Operator ruang kerja bersama atau coworking space, perusahaan media berbasis teknologi menjadi kontributor serapan di gedung perkantoran.

Namun demikian, kondisi tenant market masih memberikan tekanan terhadap rata – rata harga sewa perkantoran yang tercatat hanya Rp 276.456 per meter persegi per bulan. Angka ini turun 2,7% secara tahunan.

Ada pun rata–rata komitmen tingkat hunian untuk pasokan perkantoran tahun 2020 baru mencapai 30%. Hal ini akan membuat harga sewa kantor semakin tertekan.

Colliers memperkirakan harga sewa perkantoran di beberapa gedung nantinya akan lebih rendah dibandingkan harga rata-rata pasar saat ini.

Hal yang sama terjadi di perkantoran kawasan non-CBD yang menunjukkan penurunan tingkat hunian 2,4% secara tahunan.

Besarnya tambahan supali baru menjadi penyebab merosotnya kinerja tingkat hunian diluar kawasan pusat bisnis Jakarta.

 

Sumber: www.kompas.com

  • Share

Download Now

Subscribe to our Newsletter

Search Office By Building