Kesiapan Sektor Properti Menghadapi The New Normal
Property

Kesiapan Sektor Properti Menghadapi The New Normal

18 May 2020 272

Sektor properti termasuk sektor yang kena dampak dari pandemi Covid-19. Beberapa persoalan di bisnis properti bermunculan mulai dari sulitnya bahan baku, naiknya ongkos operasional, hingga proyek yang tertunda karena alasan investasi. Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute (JPI) Wendy Haryanto mengatakan sejumlah adaptasi akan dilakukan pelaku usaha properti sebagai efek dari menyebarnya virus corona jenis baru tersebut.

“Sektor properti sangat butuh penanggulangan yang cepat,” ucap Wendy dalam keterangan pers yang diterima Gatra.com, Ahad (17/5/2020). Dalam jangka pendek, Wendy menjelaskan pengajuan restrukturisasi utang dan juga bunga pinjaman pada perbankan akan menjadi langkah yang dilakukan pelaku usaha.

Selain itu para pebisnis properti juga akan mengajukan keringanan pajak kepada pemerintah untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Pandemi pandemi Covid-19, juga membuat pelaku usaha dibidang properti bekerja keras untuk melakukan redesain rancangan serta sistem operasi yang sesuai dengan kondisi masyakarat. Hal itu diwujudkan dengan penerapan jam operasional gedung yang lebih fleksibel supaya tidak terlalu banyak orang berkumpul dalam waktu yang terbatas dan bersamaan.

Dalam jangka panjang menurutnya akan muncul peningkatan kebutuhan terhadap sistem otomatisasi untuk mengurangi sentuhan fisik dan komunikasi digital di perusahaan. Karena masyarakat sudah terbiasa bekerja dari luar kantor selama masa pandemi. “Efek lanjutannya kemungkinan adalah berkurangnya demand untuk perkantoran,” ucapnya.

Dampak lainnya juga dirasakan disisi retail dimana tambahan kebutuhan perluasan gudang logistik akan terjadi dibandingkan penambahan jumlah toko. Alasannya kunjungan konsumen ke toko diperkirakan masih akan terbatas setidaknya untuk tiga bulan kedepan. Selain itu, peningkatan kebutuhan gudang berbanding lurus dengan peningkatan belanja daring.

Asisten Profesor di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung, Raden Aswin Rahadi, mengatakan adaptasi bersifat mutlak bagi bisnis properti. Dirinya menyebutkan pandemi atau krisis wabah selalu menjadi bagian yang tidak terhindarkan dari masyarakat diseluruh dunia. Pandemi Flu Spanyol, SARS, dan ebola menjadi bukti bahwa kondisi virus masa lalu tidak serta merta harus menghentikan kegiatan manusia.

“Ini akan menjadi bagian integral penting dari siklus bisnis,” ucapnya. Dirinya menjelaskan pandemi Covid-19 tergolong fenomena Black Swan yang bersifat Unknown Unknowns karena tidak ada penjelasan rinci tentang kondisi yang sedang dihadapi. “Tingkat ketidakpastian saat fenomena itu terjadi pun sangat tinggi dan membawa konsekuensi kritis dimasa yang akan datang. Dalam hal ini kita akan menghadapi kondisi new normal setelah masa PSBB,” kata Aswin.

Sementara itu, Direktur PT Panasonic Homes Gobel Indonesia, Wulang Widyatmoko mengatakan perusahaan telah menerapkan pendekatan personal dan digital marketing sebagai bentuk adaptasi terhadap pandemi. Konten kreatif seperti Instagram Live dan 3D Virtual Tour dibuat sebagai persiapan menuju kondisi The New Normal. “Agar kami masih bisa penetrasi ke masyarakat yang sebagian besar bekerja dari rumah,” ucapnya.

Ia menambahkan tantangan lain yang dihadapi perusahaan yakni proyek SAVASA yang berlokasi di Deltamas, Cikarang, Jawa Barat. Proyek yang akan memulai serah terima unit pertamanya itu, buah kolaborasi antara Panasonic Homes di Jepang dan Gobel International yang membuat komunikasi bisnis yang lebih intensif antara Jakarta dan Jepang. “Tantangan kami adalah perusahaan berjalan dengan baik dan tetap mengikuti aturan pemerintah,” kata Wulang.

Head of Property and Asset Management, Jones Lang LaSalle Naomi Patadungan mengatakan gaya hidup The New Normal akan diterapkan di gedung-gedung bertingkat. Penggunaan masker dan pemeriksaan suhu tubuh di pos kesehatan akan menjadi standar.

Tidak hanya itu, pembatasan jarak fisik juga masih akan berlaku saat penggunaan lift, toilet, gedung antrian, dan pengaturaan tempat duduk di area makan. Jumlah orang dalam ruang rapat dan ruang pertemuan besar juga akan dibatasi. “Tenant diharapkan terbiasa dengan pertemuan dan training dengan metoda daring dan membatasi menerima tamu dari luar untuk sementara waktu,” pungkasnya.

 

Sumber: www.gatra.com

  • Share

Download Now

Subscribe to our Newsletter

Search Office By Building