Warung Kopi atau Coworking Space, Pilih Mana?
Tips, Health & Lifestyle

Warung Kopi atau Coworking Space, Pilih Mana?

30 November 2016 1628

Konsep yang ditawarkan oleh coworking space belum sepenuhnya diterima oleh para pebisnis start-up baru. Terutama soal anggaran yang bakal dikeluarkan setiap bulannya untuk mendapatkan tempat bekerja. Kebanyakan start-up anyar lebih memilih bekerja di rumah, atau kamar kost.

Bagi mereka yang memiliki modal banyak, biasanya sudah langsung menyewa ruang kantor sendiri. Sedangkan mereka yang memiliki modal pas-pasan, biasanya mencari tempat alternatif yang bisa digunakan sebagai tempat bekerja dan sekaligus bisa digunakan sebagai tempat diskusi atau meeting.

Tempat alternatif itu biasanya adalah cafe atau warung kopi yang menyediakan tempat yang nyaman serta internet gratis. Cukup dengan mengeluarkan uang 50 ribu rupiah, sudah bisa mendapatkan secangkir kopi beserta cemilan dan koneksi internet gratis. Dan mereka pun bisa berlama-lama di sana.

Pengalaman berkantor di warung kopi atau cafe pernah dirasakan oleh beberapa penggagas start-up yang kini mendulang sukses. Salah satunya adalah Kristian Harahap, CEO Maskoolin sebuah e-commerce fashion pria, yang baru saja memperoleh pendanaan pra seri A dari Indra Djokosoetono, pemilik Blue Bird Group.

Ketika menerjuni dunia start-up, Kristian memulai semuanya dari kamar kost. Namun karena ada kebutuhan untuk meeting dengan klien, Kristian pun akhirnya pindah berkantor di warung kopi atau cafe di bilangan Kemang.

“Dulu memang enak di cafe, sama teman-teman kerjanya bareng di cafe. Kita kalau mau janjian ketemu orang juga mudah, ngobrol juga nyaman,” kata Kristian kepada tirto.id, saat ditemui di Freeware Spaces, sebuah coworking space, yang berlokasi di Jalan Bangka tempat dimana Maskoolin berkantor, Senin (21/11/2016).

Salah satu cafe yang pernah dijadikan “kantor” oleh Kristian adalah Coffee War yang ada di Kemang Timur. Pada tahun 2014, hampir setiap hari Kristian selalu ada di sana. Dengan berbekal laptop, Kristian mengerjakan ide-ide startup bersama teman-temannya. Sangking sering ada di sana, Kristian sampai akrab dengan pemilik Coffee War.

“Terakhir ke sana sudah beda, sekarang Coffee War lebih luas. Dulu tempatnya kecil dan sepi, jadi nyaman buat kerja. Kalau sekarang sudah ramai, sudah tidak kondusif lagi kalau buat tempat bekerja,” kenang Kristian.

Kelemahan Berkantor di Warung Kopi atau Cafe

Hal serupa juga pernah dialami oleh Cahyo Purnomo Edi, founder beritajogja.id, sebuah start-up media online lokal Yogyakarta. Cahyo dan teman-temannya juga merintis bisnis start-up mereka dari warung kopi ke warung kopi.

Pemilihan warung kopi sebagai tempat kerja dikarenakan modal yang minim. Daripada modal digunakan untuk menyewa ruang kantor, Cahyo lebih memilih mengalihkan anggaran untuk keperluan promosi. Seperti membuat diskusi serta roadshow ke kampus-kampus.

Hampir dua tahun sejak tahun 2012 sampai tahun 2014, Cahyo dan teman-temannya "ngantor" di warung kopi Lidah Ibu di Mrican, Caturtunggal, Sleman. Setelah bisnis berjalan bagus, barulah mereka menyewa sebuah rumah untuk digunakan sebagai kantor.

“Memang kalau start-up pemula, apalagi yang modalnya cekak, berat kalau harus sewa kantor. Kalau di coworking space setahu saya mahal, mungkin bisa lebih mahal daripada sewa rumah untuk kantor,” ucap Cahyo kepada tirto.id, Jumat (25/11/2016).

Baik Cahyo dan juga Kristian, keduanya sama-sama mengakui kelemahan "ngantor" di cafe atau warung kopi. Pertama, kerja tidak bisa fokus karena banyak pengunjung lain yang keluar masuk. Kedua, pergaulan sesama start-up jadi terbatas. Dan ketiga, susah mengatur jam kerja.

“Tapi kalau untuk kantor, cocoklah. Orang memiliki pilihan kalau mau di coworking space juga banyak positifnya, ada komunitasnya, ada workshop, ada mentoring” kata Cahyo.

Steven Sultadi, pendiri perusahaan e-commerce Solution Business di Jakarta, justru memiliki pendapat sebaliknya. Walau baru merintis bisnis pada pertengahan 2016 , Steven langsung memilih coworking space sebagai tempat bekerja.

“Di sini lebih nyaman untuk bekerja. Kami bisa berinteraksi dengan perusahaan start-up lain dan mungkin bisa menjalin kerja sama” kata Steven yang kini berkantor di Cre8 co-working space, di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (21/11/2016).

Bagi Steven, coworking space lebih cocok untuk para start-up baru. Soal harga, menurutnya tidak mahal jika dibandingkan dengan keuntungan yang di dapat. Berkantor di sebuah coworking space, tidak hanya mendapatkan tempat bekerja, ruang meeting, tapi juga jaringan yang bisa membuat bisnis semakin berkembang.

“Termasuk investor, mereka lebih mudah menemukan para pelaku bisnis di coworking space,” tambahnya.

Jadi mau berkantor di warung kopi atau coworking space? Jika ingin murah meriah bisa di cafe atau warung kopi. Jika ingin menambah jaringan serta pengalaman, bisa di coworking space. Pilihan ada di tangan Anda. (sumber)

  • Share

Download Now

Subscribe to our Newsletter

Search Office By Building