Penurunan Harga Komoditas Sebabkan Penjualan Properti 2018 Lesu
Property

Penurunan Harga Komoditas Sebabkan Penjualan Properti 2018 Lesu

25 January 2019 193

Industri properti tanah air terpantau masih lesu. Kepala Subbidang Primer Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Asep Nurwanda berkata, sejak tahun 2016 sampai tahun 2018 pembelian di sektor properti sedang turun.

Kondisi tersebut terlihat dari anjloknya pertumbuhan penjualan dan uang muka serta rendahnya nilai pra penjualan pada triwulan 2018.

Baca juga : Tips Memulai Bisnis Properti Dari Nol Tanpa Modal

Bank Indonesia mencatat total pra penjualan 10 pengembang terbesar di Indonesia hingga bulan Oktober 2018 hanya mencapai Rp 27,68 triliun. Turun jika dibandingkan tahun 2017 yang mencapai Rp 42 triliun. Catatan tahun 2018 itu juga lebih rendah ketimbang tahun 2016 yang sebesar Rp 34,51 triliun.

"Real estate sejak tahun 2016 memang melandai," ujar Asep Nurwanda dalam diskusi bertajuk Property Outlook 2019 JS Lasuna Hotel, Jakarta, Kamis (24/1).

Penyebabnya, sambung dia, adalah penurunan harga komodistas andalan Indoensia seperti batubaru hingga kelapa sawit hingga. Kondisi ini menyebabkan pendapatan industri di sektor terkait ikut tergerus. Efeknya, penghasilan para karyawan di sektor tersebut juga ikut menyusut dan berakibat secara umum pada perekonomian dalam negeri yang melambat.

Kondisi ini berpengaruh pada daya beli masyarakat yang pada akhirnya menyebabkan penjualan properti pun ikut menurun.

"Kan harga komoditas terpuruk, konsumen properti kan bekerja di sektor itu kan, ya efeknya itu pasti ke sektor properti dan real estate, daya belinya kurang," terangnya.

Bukan hanya soal daya beli, Manager Departemen Makro Prudential Bank Indonesia Bayu Adi Gunawan dalam kesempatan yang sama mengatakan, faktor lain yang membuat industri properti lesu adalah rendahnya ketersediaan unit properti terlebih yang menyasar segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebagai pasar terbesar industri properti di tanah air.

"Dari uang muka pertumbuhannya turun, dari nilai ketersediaan rumah juga persediannya menurun. Apakah ini wait and see untuk pilpres nanti, jadi pengembang besar cenderung mengurangi suplai," kata Bayu.

Baca juga : Pilih Bisnis Atau Investasi Properti

Tetapi, kondisi ini bukan tanpa jalan keluar. Pemerintah pun tidak tinggal diam dengan adanya fakta dan data yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan di sektor properti. Salah satu yang dilakukan adalah dengan membuat program masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) plus supaya pembelian properti semakin meningkat. Bahkan, Presiden Joko Widodo pun sudah menyetujui hal tersebut.

"Jadi nanti salah satu program nya adalah MBR Plus, nah ini saya usulkan dan Bapak Presiden sudah setuju, masih on proses menjadi MBR plus, yang diprogramkan oleh pak Jokowi adalah khusus untuk TNI Polri. Nah ini yang kita usulkan supaya untuk semuanya. Jangan ASN TNI polri saja," kata Sekretaris Jenderal DPP Real Estate Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida dalam kesempatan yang sama.

Diharapkan, dengan berbagai terobosan yang dilakukan pemerintah, industri properti di tahun 2019 bisa melaju lebih baik.(www.detik.com)

  • Share

Download Now

Dapatkan Pemberitahuan Dari Kami

Cari Kantor Dengan Gedung