Gojek Jadi Startup Decacorn Pertama Indonesia, Bernilai USD 10 Miliar
News

Gojek Jadi Startup Decacorn Pertama Indonesia, Bernilai USD 10 Miliar

05 April 2019 624

Gojek mencatat sejarah baru di Indonesia. Startup yang menyediakan layanan on-demand ini tercatat sebagai perusahaan teknologi pertama di Indonesia dengan valuasi 10 miliar dolar AS, menurut CB Insights, sebuah perusahaan yang menyediakan platform analisis dan machine intelligence.

CB Insights memiliki data valuasi perusahaan swasta yang dilacak menggunakan machine intelligence secara real-time. Data ini juga dikumpulkan berdasarkan nilai investasi yang masuk ke suatu perusahaan dan analisis atas valuasinya. Tim kumparan telah mendapatkan hasil riset terbaru CB Insights yang bertajuk "Global Unicorn Club: Private Companies Valued at $1B+ (as of March 14, 2019)."

Menurut daftar dalam riset di atas, CB Insights mencatat total pendanaan yang pernah diungkap oleh GOJEK adalah sekitar 3,3 miliar dolar AS.

GOJEK dibangun pada 2011 oleh Nadiem Makarim yang memulai bisnis ini sebagai layanan ojek motor panggilan lewat call center. Januari 2015, GOJEK meluncurkan aplikasi mobile yang memberi dampak sosial dan ekonomi besar. Studi yang dilakukan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, mencatat GOJEK bersama mitranya memberi kontribusi Rp 44,2 triliun untuk ekonomi Indonesia tahun 2018. Itu berasal dari layanan Go-Ride, Go-Car, Go-Food, dan Go-Life berupa Go-Clean serta Go-Massage.

Capaian valuasi 10 miliar dolar AS pada Maret lalu membawa GOJEK sebagai startup decacorn kedua di Asia Tenggara, bersaing dengan Grab sebagai kompetitor terkuatnya yang juga menyediakan layanan serupa.

CB Insights mencatat Grab kini bernilai 11 miliar dolar AS dengan total pendanaan yang pernah diungkap sekitar 7 miliar dolar AS.

Per Maret 2019, CB Insights mengungkap ada 326 perusahaan swasta di seluruh dunia yang bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS. Perusahaan-perusahaan ini secara kolektif bernilai hampir 1,1 triliun dolar AS dan telah mengumpulkan total investasi lebih dari 271 miliar dolar AS.

Amerika Serikat tercatat sebagai negara dengan jumlah perusahaan unicorn terbanyak (48 persen, lalu China di tempat kedua (28 persen), Inggris (5 persen), dan India (4 persen). Indonesia sendiri saat ini memiliki empat startup yang valuasinya lebih dari 1 miliar dolar AS.

Istilah decacorn ditujukan kepada perusahaan digital atau startup yang memiliki valuasi 10 miliar dolar AS. Istilah unicorn untuk startup dengan valuasi 1 miliar dolar AS. Lalu di atas itu semua ada juga istilah istilah hectocorn untuk startup bernilai 100 miliar dolar AS.

Unicorn, Decacorn, Hectocorn

Istilah unicorn pertama kali dicetus oleh Aileen Lee, pendiri perusahaan modal ventura Cowboy Ventures. Istilah ini dia ungkap bersama sebuah riset pada 2013 yang menyatakan bahwa hanya 0,07 persen perusahaan teknologi yang menerima investasi dari pemodal ventura yang bisa mencapai valuasi 1 miliar dolar AS. Dia menilai perusahaan ini sangat langka dan harus diberi istilah khusus.

Aileen Lee bertekad membagikan temuan studinya, tetapi dia harus menemukan satu kata yang tepat untuk perusahaan langka ini. Kata yang "nendang" ketika diucap berulang kali.

“Saya bermain dengan kata-kata yang berbeda seperti 'home run', 'megahit', dan mereka semua terdengar agak aneh. Jadi saya memasukkan 'unicorn' karena mereka - ini adalah perusahaan yang sangat langka, dalam arti bahwa ada ribuan startup di bidang teknologi setiap tahun, dan hanya segelintir yang akan menjadi perusahaan unicorn. Mereka sangat langka," kata Lee, seperti dikutip International Business Times.

Selain menggambarkan kelangkaan, istilah unicorn bagi Lee membawa perasaan mistis dan lucu, yang katanya menangkap inti dari banyak startup yang bermimpi mendapat nilai di atas 1 miliar dolar AS.

"Banyak wirausahawan dan pendiri memiliki impian besar dan berada dalam misi untuk membangun hal-hal yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya," katanya. "(kata) 'Home run' atau sesuatu seperti itu tidak benar-benar menangkap semangat itu."

Isitlah ini dibuat oleh Bloomberg pada tahun 2015. Media bisnis dan investasi dari Amerika Serikat ini mengatakan, "Itu adalah kata-kata yang dibuat berdasarkan pada makhluk yang tidak ada."

Sumber: Kumparan

  • Share

Download Now

Subscribe to our Newsletter

Search Office By Building