MRT Bayar Listrik Rp12 Miliar Perbulan ke PLN
News

MRT Bayar Listrik Rp12 Miliar Perbulan ke PLN

20 November 2019 228

PT MRT Jakarta menggelontorkan anggaran sekitar Rp 12 miliar per bulan untuk membayar tagihan listrik kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). MRT harap pembayaran yang lancar bisa menjamin pelayanan dan operasional tidak terganggu.

“Beban kita untuk listrik cukup tinggi karena sebulan sekitar Rp 12 miliar,” ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Korporasi MRT Jakarta Tuhiyat dalam paparannya di Jakarta, Selasa (19/11/2019). Tuhiyat mengatakan pihaknya sudah menandatangani kontrak dengan PLN untuk penyediaan listrik tingkat “silver class” atau diprioritaskan dibanding layanan untuk area komersial lainnya.

“Kontrak kita dengan PLN jika di UU BUMN itu berbeda, murah, ini tidak. Justru lebih mahal dari komersial biasa karena kita prioritas, yang lain mati (listrik) kita tidak, kecuali ‘blackout’ (mati listrik total) seperti kemarin,” ucapnya.

Dia mengatakan ketersediaan listrik di MRT Jakarta ditopang oleh dua gardu PLN. “Walaupun mati, kita hidupnya lebih cepat lima jam setelahnya, yang lain baru besoknya,” katanya.

Tuhiyat menuturkan selain listrik yang sebesar 10%, komponen beban terbesar di antaranya yang pertama adalah penyusutan aset 42%, kemudian gaji dan tunjangan karyawan 22%, upah pegawai kontrak atau outsourching 11%, jasa konsultan dan asuransi 3%, sewa kantor dan kendaraan 2% dan pelatihan dan pengembangan 1%.

Sebelumnya, Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta Muhammad Effendi mengaku masih mempertimbangkan untuk membangun genset demi menopang pengoperasian kereta Ratangga MRT karena pihaknya sudah berkontrak penyediaan listrik premium dengan PLN. Selain itu, lanjut dia, mati listrik total terjadi hanya dalam jangka waktu yang lama, sehingga dikhawatirkan genset tersebut justru akan menganggur sementara investasinya cukup tinggi.

“Listrik PLN ini matinya sembilan tahun sekali, di tahun 2009 dan berapa tahun belakangan, bayangkan jika bangun genset dan tidak digunakan sampai berapa tahun,” ucapnya.

Pasokan listrik MRT Jakarta bersumber dari dua subsistem 150kV PLN yang berbeda, yakni Subsistem Gandul – Muara Karang melalui Gardu Induk PLN Pondok Indah dan Subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk PLN CSW.

Adapun, genset yang dimiliki MRT Jakarta saat ini adalah untuk pasokan listrik untuk kebutuhan keselamatan dan evakuasi di fasilitas stasiun dan di terowongan, bukan untuk pengoperasian kereta.

Kapasitas tenaga listrik cadangan (back up power) MRT Jakarta tersebut dinilai sudah cukup dan berfungsi dengan baik pada saat pasokan listrik terputus. Karena itu pada saat listrik terputus, evakuasi bisa dilakukan dengan aman.

 

Sumber: www.republika.co.id

  • Share

Download Now

Dapatkan Pemberitahuan Dari Kami

Cari Kantor Dengan Gedung