Bisnis Sewa Kantor Lesu, Coworking Space Menjamur
Property

Bisnis Sewa Kantor Lesu, Coworking Space Menjamur

04 December 2017 150

Di tengah kurang bergairahnya bisnis perkantoran karena kondisi pasokan yang berlebih (over supply), bisnis coworking space semakin berkembang.

Perusahaan penyedia dan juga pengelola coworking space belakangan ini semakin gencar melakukan ekspansi. Walhasil, ruangan coworking space makin menjamur dan mudah ditemui di mana-mana.

EV Hive misalnya, perusahaan service office dan coworking space yang sudah diinkubasi oleh East Ventures telah memiliki ruang kerja bersama di 10 lokasi dengan total luas area mencapai 17.000 meter persegi. Padahal, perusahaan ini baru berdiri tahun 2015 dengan mengelola satu coworking space dan selebihnya ditambah di tahun ini.

Hingga akhir tahun, EV Hive akan menambahkan dua lagi coworking space yaitu di kawasan Menteng dan Jakarta Selatan dengan total luas lebih dari 2.000 meter persegi. Tidak berhenti di situ saja, perusahaan ini juga akan membuka 30 lokasi lagi coworking space tahun depan.

Baca Juga: Pengertian Coworking Space dan Keuntungannya

"Dalam tiga tahun ke depan kami menargetkan punya jaringan di 100 lokasi. Tahun depan kami mau tambah di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Medan dengan kapasitas 3 kali lipat dari yang ada saat ini," kata Carlson Lau, Co-Founder dan CEO EV Hive, Kamis (30/1/2017).

Hingga saat ini, EV Hive telah menggelontorkan US$ 4,5 juta untuk pengembangan bisnis coworking space di Indonesia. Gencarnya ekspansi yang dilakukan tidak lepas dari dukungan investor yang diterima perusahaan.

Carlson mengatakan, EV Hive sudah mendapatkan suntikan modal sekitar US$ 4,5 juta dari sejumlah investor di antaranya Sinar Mas Digital Ventures (SMDV), Sinar Mas Land, Insigna Ventures, lntudo Ventures, dan Jacumen lnvestments. "Jadi kami masih cukup dana untuk ekspansi tahun depan," kata Carlson.

Dalam melakukan ekspansi, EV Hive perusahaan tidak melakukan pembelian kantor secara langsung tetapi dengan menyewa space di gedung perkantoran atau bekerja sama dengan developer.

Selain itu, perusahaan ini juga merancang strategi untuk berpartner dengan para komunitas lokal, sekaligus menghubungkan setiap orang dalam ekosistem kami.

Terbaru, EV Hive telah melakukan merger dengan Clapham Collective yaitu perusahaan coworking space yang berbasis di Medan dengan memiliki ruang kerja bersama seluas 1.000 meter persegi. Dengan merger ini, EV Hive membuka akses bagi para startup-startup lain di Indonesia yang ingin membuka kantor cabang di Sumatera Utara.

Lokasi coworking space yang dimiliki EV Hive di antaranya berada di JSC Hive di Kuningan, D Lab di Menteng, The Breeze di BSD Tangerang, Satellite di SCBD, The Maja di Kebayoran Baru, Tower @IFC di Jakarta Pusat, City @ Plaza Kuningan di Kuningan, Dimo di Menteng dan lain-lain. Kini perusahaan sudah memiliki 1.300 anggota.

Selain EV Hive, banyak developer yang juga mulai mengembangkan coworking space. PT Intiland Development Tbk (DILD) misalnya sudah memiliki dua coworking space di Surabaya yakni Sub Co Spazio dan Sub Co Darmo Harapan dengan luas masing-masing sekitar 400 meter persegi.

Setelah ini, Intiland juga berencana menambah satu coworking space di Spazio Tower yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan. Harto Laksono, Direktur Intiland mengatakan, prospek coworking space di Surabaya sangat bagus seiring dengan banyaknya perusahaan start up di kota Pahlawan tersebut.

Kemudian, PT PP Properti Tbk (PPRO) juga berencana mengembangkan coworking space di proyek-proyek apartemen mahasiswa yang sedang dikembangkan perusahaan saat ini. Alasannya, perusahaan melihat di lingkungan kampus akan banyak bermunculan perusahaan start up. "Tahap awal selagi proyek masih dalam tahap pembangunan, marketing galery akan kami sulap menjadi coworking space." ujar Galih Saksono, Direktur Operasi PPRO.

Director Research and Advisory Cushman & Wakefield Arief Raharjo mengatakan, perkembangan coworking space di Indonesia berbeda dengan di Amerika Serikat. coworking space di dalam negeri tumbuh saat pasar perkantoran sedang turun, sementara kalau di Amerika pertumbuhan coworking space terjadi karena harga sewa ruang kantor sangat tinggi.

Baca Juga: Warung Kopi atau Coworking Space, Pilih Mana?

"Perbedaan itu adalah karena coworking space ini bukan semata karena kebutuhan space fisik, namun perkembangannya di Indonesia karena di dalamnya ada kolaborasi dan komunitas." ujar Arief.

Dimasa mendatang, Arief melihat prospek bisnis coworking space akan tetap berkembang karena bisnis tersebut mengedepankan komunitas. Di dalamnya akan terdepat komunitas yang bisa mempertemukan berbagai start up, sehingga lebih mudah dalam mengembangkan bisnis.

 

Sumber

  • Share

Download Now

Dapatkan Pemberitahuan Dari Kami

Cari Kantor Dengan Gedung